Kutukan Laba-Laba

​Kita tentu sering mendengar kata JARING LABA-LABA…Entah dari mana laba-laba belajar menenun jaring, tapi dalam sebuah mitologi Yunani kuno, konon ada dan hiduplah seorang manusia yang pintar menenun benang. Tenunannya demikian indah sehingga tak ada seorang pun penduduk kota Athena yang sanggup mengalahkannya. Sayang sekali orang ini besar kepala, sombong dan arogan. Karena kemampuannya, dia pun sesumbar bisa mengalahkan Dewi Athena sekalipun, dalam hal membuat tenunan.

Orang ini mestinya tahu, bahwa ia hidup di negeri para Dewa yang sangat subur dengan mitos tentang Dewa-Dewi…

Akhirnya sesumbarnya sampai juga ke telinga Dewi Athena, yang sebenarnya kasihan terhadap orang tersebut. Sang Dewi ingin menyadarkannya. Maka menjelmalah Dewi Athena sebagai seorang perempuan tua. Tapi karena kesombongannya dan hatinya rupanya sudah lebih keras dari batu akik yang terkeras sekalipun, sang jago tenun ini bukannya sadar, malah semakin sesumbar…

Ketika Sang Dewi sudah putus asa membujuknya, kemudian ia menampakkan wujud dirinya yang asli, sebagai sosok Dewi Athena. Bukannya takut, sang ahli tenun kita malah menantang Sang Dewi untuk adu tenun…

Orang ini kelihatannya memang tak punya syaraf takut. Dengan berat hati tantangannya diterima oleh Sang Dewi. Mereka pun mulai berlomba. Dalam sekejap Sang Dewi menyiapkan sebuah rajutan tenunan yang sangat indah mengalahkan si angkuh (Ya iyalah, Dewi Athena, khoq dilawan 😂).

Dewi Athena lalu mengelus pundak sang penenun, yang membuat orang itu menyadari kesalahannya, menyesali kesombongannya, dan meminta ampun…

Tetapi dosanya menghina Dewa sudah terlalu besar, dan dia harus mendapat hukuman yang sepadan. Dewi Athena berkata: “Hei orang berdosa, untuk membuat kamu selalu ingat pelajaran ini, kamu dan keturunanmu akan selalu tergantung dan terus menenun sampai dunia kiamat”.Tubuh sang penenun mulai berubah menjadi seekor laba-laba. Laba-laba tergantung di udara dan terus menerus menenun jaring sampai sekarang.

Itu hanyalah versi dongeng dari negeri para Dewa Yunani hal ihwal laba-laba. Jangan ditanggapi serius, apalagi mengkait-kaitkan dengan soal lain…😂😂😂

Udah, gitu aja. Beta mau ngopi dulu, mumpung sudah sore…😊

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Soal Ayam Menyeberang Jalan

​MENGAPA ayam menyeberang jalan? Bila itu ditanyakan kepada filsuf Plato, maka mungkin sang filsuf akan menjawab bijak: “Untuk mencari kebaikan yang lebih baik”. Bila ditanyakan kepada Aristoteles, murid Plato, sang murid mungkin akan bilang: “Karena merupakan sifat alami dari ayam”.

Yang mengejutkan adalah, ketika pertanyaan itu diajukan kepada masyarakat yang cenderung mengalami gejala paranoid.

Jawaban Presiden George W. Bush agaknya dapat sedikit mewakili: “Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tahu apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak netral di sini!”

Kita pernah mengalami era ketika hampir setiap saat kita selalu dihantui perasaan ketakutan dituduh anti program pemerintah, anti pembangunan atau bahkan provokator, siapa kawan siapa lawan, di antara kawan ada lawan. Mata-mata dan penjilat ada di mana-mana. Pada suatu masa, kita tersugesti oleh adanya resiko bahaya… Stempel musuh penguasa, pemberontak, provokator, cukup menakutkan!

Akibatnya, kita terkondisikan untuk selalu berada dalam kewaspadaan yang tinggi, bahkan terkesan paranoid. Suatu saat bisa dijemput paksa, bisa juga diciduk tiba-tiba. Kondisi tersebut tentu saja terbentuk akibat pengalaman sejarah masa lalu. 

Semuanya harus terkondisi aman, tertib, dan tidak boleh ‘gaduh’. Persatuan diukur dengan keseragaman. Semua harus bilang iya bila yang berkuasa mengharapkan iya… Sebuah interupsi dalam sidang parlemen misalnya, dapat berbuntut panjang. Pelemparan batu terhadap anggota parlemen pun sah-sah saja…

Kondisi paranoid seperti itu semoga cepat berlalu, namun bukan berarti sudah sembuh total. Masih banyak orang memegang prinsip seperti Mr. Bush, dengan berbagai kepentingan tetap ingin melestarikan kondisi paranoid itu…

Ah, sudahlah daripada memikirkan soal kenapa ayam menyeberang jalan, mungkin lebih baik mendengarkan kicauan Wo Pio dan Mengu Rara…😂😂😂

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Runtuhnya Kerajaan Lebah

​Konon suatu hari di sebuah Kerajaan Lebah…

Dalam sarangnya, menunggu sang ratu lebah yang menjadi pusat segala aktivitas dalam komunitas tersebut. Sang ratu berada di dalam sarang dan dijaga dengan sangat loyal oleh barisan lebah penjaga.

Para lebah pekerja meninggalkan sarang seperti biasanya, menjalankan tugas rutin untuk mengumpulkan madu bunga-bungaan sedikit demi sedikit. Melayani semua keperluan sang ratu. Semua masih biasa-biasa saja…

Bangsa lebah memang memiliki kasta dalam kehidupannya. Ada kasta lebah pekerja yang bertugas mencari madu dari nektar bunga dan mengumpulkannya di dalam sarang.

Setiap kasta lebah saling bekerja sama untuk mengumpulkan madu dan juga menjaga sarangnya dari ancaman musuh atau predator demi kelangsungan komunitasnya.

Lebah pekerja biasanya harus terbang menempuh jarak jauh dan mensurvey wilayah luas untuk menemukan makanan. Mereka mengumpulkan serbuk sari bunga dalam radius beberapa ratus meter dari sarangnya.

Cara lebah berkomunikasi sangat menarik dan telah diteliti oleh para ahli. Lebah pekerja tentu saja tidak melakukannya dengan olah vokal, tetapi dengan sejenis gerakan tarian. Lebah komunikator itu terbang menari-nari sambil membuat lingkaran-lingkaran kecil. Tarian ini tentunya menarik perhatian lebah-lebah yang lainnya dan ini merupakan isyarat bagi mereka bahwa lebah yang sedang menari itu telah menemukan suatu tempat di mana terdapat tepung sari bunga. Lebah-lebah madu yang lainnya dapat pula mencium bau sari bunga yang dibawa pulang oleh si lebah penemu ini. Bila lebah penemu itu menari-nari dengan penuh gairah dan bersemangat, berarti bunga temuannya banyak. Lebah pekerja pun akan berangkat beramai-ramai. 

Suatu ketika, para lebah pekerja pencari madu dari nektar bunga itu kebingungan alang kepalang. Mereka terkepung asap pekat.

“Oh kiamat!”, teriak seekor lebah pekerja yang sudah cukup umur.

“Jangan ‘wokole’ kamu, kalau kiamat itu pasti ada tanda-tandanya”, kata seekor lebah pekerja lain yang usianya lebih muda.

“Asap yang hebat ini kan tanda-tandanya, ini kiamat!” Sahut yang lebih umur tadi.

“Bagaimana dengan ratu kita?” Lebah pekerja lainnya mulai cemas…

“Kelihatannya gawat. Tipis harapan. Kita tak bisa lagi mendekati istana tempat tinggal sang ratu.”

“Habislah kita, habis. Kamu lihat itu, asapnya pekat sekali. Tamat riwayat kita.” Kembali lebah yang berumur tadi berkata.

“Ayo menjauh.” Lebah yang lain berteriak…

Tapi mereka terlambat. Komplotan lebah pencari madu itu telah terjebak asap tebal, satu demi satu mereka beterbangan mencari selamat di antara kepungan asap tebal. Sang ratu tertinggal sendirian di sarang. Tragis.!

Sekarang nampaknya semuanya akan berakhir dengan sebuah malapetaka bagi kerajaan lebah ini… Pohon tempat lebah-lebah itu bersarangpun mulai hangus terbakar api… Kalau terjadi kebakaran seperti itu, tentu saja seribu ekor lebah penjaga ratu pun tak berdaya. Lebah ratu pastilah jadi korban pertama, karena ia tak bisa terbang.

Dalam komunitas lebah, ratu memegang peranan penting. Tanpa ratu, kawanan lebah akan kocar-kacir.

Mereka tidak tahu dan tak akan pernah tahu apa yang bisa dikerjakan. Dunia mungkin seakan serasa kiamat… Mereka semua saling berkomunikasi, tentu dengan bahasa lebah… bahwa komunitas ini mesti diselamatkan demi kelangsungan hidup bersama.

Tak pernah ada mata pelajaran ilmu komunikasi dalam masyarakat lebah. Komunikasi itu tentu berkembang dengan sendirinya sesuai naluri. Setiap lebah pekerja, yang sudah mencapai tingkat usia tertentu pasti memahami “bahasa” ini secara otomatis. Namun di tengah kebingungan yang mencekam ini, yang tak kunjung mereka pahami adalah mengapa hutan, bunga-bunga dan sarang mereka terbakar api. Apa dosa mereka??!

Karena tak dapat lagi berpikir jernih akibat kondisi yang sangat kalut, mereka pun buru-buru menyimpulkan: “Ah, ini karena ulah para politisi… Kenapa mereka membiarkan hutan terbakar?!”😢😭

Ini murni cerita fabel, tentang sebuah kerajaan lebah. Sekali lagi, jangan dikait-kaitkan dengan soal lain, apalagi politik. Ok, sobat! Gitu aja dulu, sudah waktunya ngopi sore… selamat menikmati waktu istrahat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Asmara Seorang Aktivis Perempuan (Sebuah Cerpen)

Malam basah oleh rinai hujan yang baru saja terhenti beberapa menit lalu. Tumini terduduk lunglai pada bangku taman pinggir kota. Hanya beberapa kilometer dari kompleks perumahan tempatnya tinggal bersama Darno, suaminya. Suami yang dulu sangat dipujanya itu telah meninggalkan jejak-jejak biru kehitaman pada sekujur tubuhnya.

Tumini menghela napas di sela-sela sisa isaknya: “Duh Gusti. Apa yang sesungguhnya terjadi padaku. Apa aku salah bertanya pada Kang Darno soal Suntari?”

Terbayang oleh Tumini peristiwa yang dialaminya beberapa jam lalu.

Pagi tadi, setelah mengantarkan anak-anaknya bersekolah, Tumini memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur di Supermaket yang ada di mall dekat sekolah anaknya. Sengaja dia tidak meminta ijin pada suaminya untuk mengunjungi Supermaket tersebut, karena dia berencana membuat pesta keluarga kejutan di hari jadi suaminya.

Memasuki pelataran mall besar itu, dia melihat mobil suaminya terparkir. Keragu-raguan menyergapnya seketika. Dia takut suaminya tahu pesta kejutan yang direncanakannya. Tapi instingnya menuntun dia untuk tetap memasuki lobi mall besar tersebut. Entah apa yang memutar kepalanya untuk langsung menatap sebuah toko mas besar yang ada di kanan lobi dengan interior mewah itu. Seketika tatapannya terkunci pada peluk manja seorang perempuan di pundak Darno, suaminya. Tangan perempuan itu menunjuk etalase yang memajang berbagai bentuk kalung. Dengan jantung berdetak kencang dan keringat dingin yang membasahi tengkuknya, Tumini memaksa kakinya yang lemas untuk menghampiri mereka.

“Mas Darno,” lirih suara Tumini di samping laki-laki yang telah menjadi suaminya selama sepuluh tahun itu.

Ekspresi Darno jelas terlihat sangat terkejut dengan kehadiran perempuan yang telah memberinya seorang putra dan seorang putri tersebut.

“T..t.. Tumini… Ngapain kamu di sini?” Ditepisnya segera tangan perempuan yang menggelayut manja pada pinggangnya.

“Aku mau ke Supermarket di lantai dasar, Mas. Belanja kebutuhan dapur,” jawaban Tumini meluncur dari sela pucat bibirnya.

“Siapa, Schat?” tanya perempuan di samping Darno.

Seketika mata Tumini beralih pada perempuan itu. Matanya cepat menilai penampilan ayu si perempuan. Tubuhnya proporsional, riasan minimalis, namun mampu menonjolkan bagian-bagian terindah dari wajahnya. Rambut yang menggelung indah di puncak kepalanya berhiaskan semacam mangkuk konde dari kerajinan tanduk yang sederhana. Pakaiannya melekat pantas, setelan kerja yang walaupun tampak tidak mahal, namun sangat pas dan serasi membungkus tubuh perempuan itu. Sementara kakinya dialasi sepatu vantovel coklat dengan hak 5 cm. Sungguh penampilan yang cukup sempurna di mata Tumini yang sehari-hari lebih senang memakai kaos oblong dan rok panjang sederhana.

Namun yang membuat Tumini bertambah pias bukanlah penampilan perempuan itu. Tapi panggilan perempuan itu pada suaminya. Pendidikan Tumini sebagai seorang sarjana ekonomi sebuah universitas terkemuka memahfumkan padanya bahwa ada hubungan yang istimewa antara suaminya dengan perempuan itu.

“Eh, uhm… Anuu… Ini istriku,” jawab Darno dengan pandangan tertumpu pada Tumini. Pandangan mata yang sulit diterjemahkan oleh Tumini. Namun itu bukan pandangan mata memuja yang dulu sekali pernah ditujukan pada Tumini.

“Oooo. Mbak Tumini, ya. Kenalin Mbak, saya Suntari.” Suara halus perempuan itu bergaung tajam pada telinga Tumini. Dipandanginya tangan yang terulur. Tubuh Tumini kaku mematung. Batinnya bertarung antara menerima atau menafikan kenyataan yang terpapar di depan matanya.

“Mas ngapain di sini?” tanya Tumini tanpa menghiraukan uluran tangan perempuan itu. Telinganya mendengar suaranya sendiri yang seakan berasal dari kejauhan.

“Ini, Mbak. Mas Darno mau memenuhi janjinya untuk membelikan saya kalung”. Perempuan bernama Suntari itu yang menjawab pertanyaan Tumini.

Tumini merasakan ada kuak perih pada dadanya. Darno berjanji membelikan kalung pada perempuan itu. Sementara terhadap Tumini, istrinya, bahkan janjipun tidak pernah diberikan oleh Darno.

Mendengar jawaban Suntari, bias pias menjalari wajah Darno. Tergambar rasa bersalah pada matanya. Sementara Tumini, tanpa menunggu reaksi suaminya langsung berbalik menuju pintu keluar. Seketika terngiang pada telinganya gunjing nakal teman-teman kantor suaminya saat Tumini hadir pada acara Ulang Tahun salah satu jajaran Direksi kantor suaminya. Pada saat itu ia sempat menangkap cerita bahwa suaminya telah berselingkuh dengan salah seorang teman sekantornya. Namun kala itu benaknya menolak untuk percaya. Walaupun Darno bukan laki-laki yang romantis, namun dia adalah bapak yang bertanggungjawab pada anak-anak dan keluarganya.

Isak tertahan Tumini akhirnya tumpah dalam hening di rumahnya. Kenyataan yang terpapar di hadapannya sangat memukul hati dan harga dirinya sebagai perempuan. Tumini menangis tanpa suara. Entah berapa lama dia menangis saat disadarinya kalau anak-anak yang dikasihinya itu sebentar lagi akan pulang dari sekolah. Nalurinya sebagai ibu memaksa langkahnya menuju dapur. Anak-anaknya tidak boleh tahu derita batinnya. Dengan sisa bahan makanan yang ada di kulkas, Tumini memasak hidangan makan siang untuk anak-anaknya.

Tidak ada lagi tersisa dalam pikirannya mengenai pesta kejutan sederhana bagi suaminya. Sambil memasak, terbayang masa sepuluh tahun kehidupan rumah tangga mereka. Suaminya yang menjadi seorang Manajer pada sebuah perusahaan ekspor impor adalah laki-laki yang jatuh cinta padanya. Laki-laki kaku yang langsung mendatangi bapak dan bundanya untuk melamar dirinya. Lamaran yang langsung mendapatkan jawaban iya dari kedua orang tuanya, tanpa meminta persetujuan apapun dari Tumini.

Orang tua Darno yang terpandang karena kekayaannya dan pendidikan Darno yang lulusan sebuah universitas ternama di Amerika, menjadi jaminan tersendiri bagi orang tua Tumini,  bahwa kelak kehidupan putrinya pasti bahagia.

Sementara Tumini, perempuan berwajah bundar manis dengan mata besar yang berbinar cerdas, demi baktinya pada kedua orang tuanya hanya terdiam saat mereka mengabarkan telah menerima pinangan Darno. Beberapa skenario pertemuan disusun orang tuanya untuk mengakrabkan hubungan Tumini dengan Darno. Walaupun Tumini tahu dan mengenal Darno sebagai kakak kelasnya di SD dan SMA, namun Tumini tidak terlampau akrab dengan Darno. Ditambah lagi kepergian Darno ke Amerika untuk melanjutkan studinya, membuat Darno menjadi sosok yang asing bagi Tumini.

Skenario yang disusun oleh orang tuanya membuat Tumini lebih mengenal Darno. Lelaki tampan berpostur tegap ini mungkin adalah laki-laki kaku yang tidak romantis bagi Tumini. Namun Tumini melihat ada sinar memuja pada mata Darno setiap kali memandangnya. Hal inilah yang kemudian membuka hati Tumini untuk menerima Darno sebagai suaminya.

Banyak sekali penyesuaian yang harus mereka lakukan dalam rentang waktu sepuluh tahun tersebut. Tumini sendiri harus selalu berdamai dengan hatinya saat mengingat cita-citanya untuk menjadi seorang ahli ekonomi yang bisa membawa negaranya keluar dari krisis ekonomi, kandas setelah pernikahan mereka. Darno tidak pernah mengijinkan istrinya bekerja. Menurut Darno, apa yang dia hasilkan sudah lebih dari cukup tanpa istrinya harus bekerja. Tumini menerima ini dengan lapang dada. Dia yakin dan percaya bahwa suaminya akan selalu dapat mencukupi biaya hidup rumah tangga mereka.

Tahun-tahun berlalu. Pernikahan yang mereka bina membuahkan dua orang anak yang sangat mereka cintai: Anggito Bimo Mukti dan Dyah Ayu Setiani. Anggito lahir di tahun kedua pernikahan mereka. Sementara adiknya lahir dua tahun setelahnya. Saat ini mereka duduk di bangku kelas 3 dan kelas 1 Sekolah Dasar.

Seiring berlalunya tahun demi tahun dalam pernikahan itu, Darno membuktikan dirinya sebagai suami yang bertanggungjawab bagi keluarganya. Walaupun sikap yang ditunjukkannya pada Tumini semakin berubah. Tidak ada lagi binar memuja pada matanya yang membuat Tumini dulu memutuskan mau dilamar olehnya. Sementara kehidupan mereka yang serba berkecukupan dan bergelimang dalam harta tidak membuat Tumini berubah. Dia tetap menjadi perempuan sederhana yang mengurus sendiri anak-anak dan rumah tangganya.

Tumini tersentak saat klakson jemputan kedua anaknya berbunyi dari depan gerbang rumahnya. Tumini dan Darno memang menyerahkan urusan penjemputan anaknya pada jasa jemputan sekolah, sementara salah satu tugas Tumini adalah mengantar mereka sampai pintu gerbang sekolah setiap paginya. Buru-buru dibasuhnya wajahnya yang masih menyisakan air mata.

“Assalamualaikum.” Salam kedua bocah lucu itu saat memasuki rumah.

“Waalaikumsalam,” jawab Tumini yang berusaha membuat tegar dalam suaranya.

“Ibuuuu… Lapeeeer…,” kata Anggito si sulung yang berwajah sangat mirip Bapaknya.

“Iiiih… Mas ini lho, ganti baju dulu, tahuuuk…,” adiknya yang berwajah manis ayu mengingatkan.

“Naaah… Bener tuh kata Dek Ayu, Mas… Ayo, sana ganti baju dulu.”

“Bu, ibu habis nangis, ya? Kok mata ibu merah gitu…,” tegur Ayu pada ibunya. Si bungsu ini memang pengamat yang teliti. Kecerdasan Darno dan Tumini tampak diwarisi oleh kedua anaknya.

“Hehehehe… Iya… Tadi ada sinetron yang mengharukan di TV, Dek. Jadi, ibu nangis deh…,” ujar Tumini berbohong demi menutupi kegelisahan hatinya.

“Ayo, sana pada ganti baju dulu… Terus maem ya Nak. Ibu masak sayur sop dan ayam goreng kesukaan kalian. Jangan lupa cuci kaki dan tangan kalian dulu, ya…”

“Okeee, Buu..,” jawab si sulung.

“Hari ini kalian les jarimatika, ya… Diantar Om Jack aja, ya… Kepala ibu agak pusing niy…”

“Yeee… Ibu pusing karena kebanyakan nangis nonton sinetron tuuuh…,” ledek si Sulung.

“Hehehehehe… Iya kali ya Mas… Ya udah, ayo sana pada ganti baju.”

Kedua anak itu segera berderap menuju kamar masing-masing di lantai dua rumah mereka. Sementara Tumini menelpon Jack, tukang ojek kepercayaan mereka yang tinggal di kampung sekitar rumahnya.

Setelah menemani kedua anaknya makan siang dan bercengkrama dengan mereka, Tumini kemudian membantu anak-anaknya mempersiapkan keperluan les mereka. Dalam hal mengurus dan mendidik anak-anaknya tersebut, Darno menyerahkan sepenuhnya pada Tumini, termasuk memilihkan sekolah terbaik dan pendidikan tambahan yang bagus bagi kedua buah hati mereka itu. Mereka bersepakat bahwa anak-anak mereka adalah harta mereka yang paling berharga dan mereka akan menyediakan yang terbaik bagi keduanya.

Tidak beberapa lama setelah kedua anaknya tersebut berangkat untuk les, Darno pulang ke rumah. Rasa dingin dan basah luka dalam hatinya membuat Tumini enggan melayani suaminya. Biasanya, walaupun suaminya itu pulang tengah malam, yang beberapa bulan terakhir sering dilakukan dengan alasan lembur, Tumini tetap menyediakan baju ganti dan menyediakan makan bagi suaminya itu. Namun kali ini dia hanya duduk diam mematung di meja makan.

“Hei, Tum, mana baju ganti saya?!” teriak Darno dari dalam kamar mereka.

Tumini tetap terdiam, tidak menjawab tanya suaminya itu. Diam yang kemudian membuat Darno segera keluar dari kamar.

“Kamu kenapa, Tum?” tanya suaminya tanpa rasa bersalah dalam nada suaranya.

“Siapa Suntari itu, Mas?” pertanyaan Darno berbalas pertanyaan dari Tumini.

“Mau apa kamu tahu tentang Suntari?!”

“Jelas aku perlu tahu, Mas. Aku ini istrimu. Jangan kamu kira aku tidak melihat apa yang kamu lakukan di mall tadi pagi. Jangan kamu kira aku nggak tahu  bagaimana sikap dan panggilan mesra Suntari ke kamu. Jangan kamu kira aku nggak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Suntari, Mas!” Nada suara Suntari semakin tinggi.

Plaak!!!

Teguran Tumini menghadirkan tamparan Darno di pipinya.

“Kamu ini apa-apan sih Tum?! Suntari itu hanya teman kantorku!”

“Teman?! Teman apa yang memeluk mesra pinggang suami orang, Mas?! Teman apa yang memanggilmu demikian spesial. Teman apa yang dibelikan kalung mahal?! Teman apa yang bikin gosip heboh di kantormu, Mas?! Apa itu yang namanya teman?!” jawaban Darno dan panas tamparan dipipinya membuat Tumini menjadi histeris.

Sementara di luar, langit gelap pekat, mendung mengandung hujan.

Histeris yang ditunjukan Tumini membuat Darno gelap mata. Dijambaknya rambut Tumini dan diseretnya Tumini dari kursi meja makan, kemudian dihempaskan tubuh Tumini ke lantai dengan keras. Hempasan yang membuat Tumini limbung dan seketika tubuhnya menghantam kursi meja makan. Dengan menahan sakit, Tumini terduduk dan kembali berurai air mata.

“Tumini ! Sejak kapan kamu berani melawan suamimu?! Sejak kapan, kamu berani mempertanyakan perbuatanku?! Apa kurang semua yang sudah aku sediakan?!” bentak Darno dengan emosi yang menggelegak marah.

“Tidak ada satu orang perempuanpun yang rela jika suaminya punya simpanan, Mas !!!”

Jawaban Tumini membuat Darno semakin emosi. Ditendangnya dengan sekuat tenaga tubuh Tumini hingga membuat kursi meja makan yang terbuat dari kayu jati di samping Tumini terguling. Jawaban Tumini membuat Darno semakin murka. Egonya sebagai laki-laki terluka dengan sikap melawan yang ditunjukkan oleh Tumini. Diseretnya kembali Tumini dari lantai dan dipukulnya Tumini berulang-ulang. Perselingkuhannya dengan Suntari yang diketahui istrinya itu membuat Darno gelap mata. Untuk menghindari pukulan Darno yang bertubi-tubi, Tumini berlari keluar rumah bersamaan dengan jatuhnya hujan yang deras membasahi bumi.

Tumini terus berlari di tengah hujan dengan hati yang remuk redam. Sakit pada tubuhnya akibat penganiayan yang dilakukan Darno tidak lagi dirasakannya. Hati dan harga dirinya jauh lebih sakit. Tumini berlari dan terus berlari ditengah hujan tanpa menghiraukan arah mana yang akan ditujunya sampai kakinya membawanya pada bangku taman dipinggir kota. Penat yang dirasakan tubuh dan jiwanya membuat Tumini terduduk pada bangku taman itu. Tidak dihiraukannya pandangan orang-orang yang melintas. Hujan telah reda. Tapi tidak gemuruh yang ada di dada Tumini. Dengan pandangan kosong, Tumini duduk terkulai.

Tiga Tahun Kemudian…

“Ibu-ibu sekalian, dalam Pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sudah tercantum ketentuan pidana bagi para pelaku KDRT. Kalau ada di antara ibu-ibu yang mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami ibu-ibu, jangan ragu dan takut untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib. Ke polisi. Karena tidak boleh ada lagi kekerasan bagi perempuan dalam rumah tangga yang dibinanya. Perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam mempertahankan dirinya. Ya, jadilah perempuan yang merdeka, Saudaraku sekalian kaum perempuan. Jadilah perempuan yang MERDEKA, bebas dari segala bentuk penindasan !”

Kata-kata yang berapi-api dari Tumini di hadapan Ibu-ibu PKK Kampung Pulo, Kampung Melayu, disambut dengan tepukan tangan meriah dari puluhan perempuan yang hadir di ruang rapat kelurahan setempat. Ya, Tumini telah berubah, dari perempuan sederhana dulunya, yang sama sekali tidak peduli pada hak-haknya, kini menjadi seorang aktivis yang memperjuangkan nasib dan hak bagi kaumnya.

Peristiwa tiga tahun lalu dalam kehidupan rumah tangganya serta perkenalannya dengan seorang aktivis perempuan bernama Erlita telah membuat Tumini memutuskan untuk bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Tumini telah berubah. Dia tidak lagi menjadi perempuan yang tidak peduli dengan penampilannya. Saat ini dia menjelma menjadi perempuan percaya diri yang sangat memperhatikan setiap detail penampilannya. Ia telah menjadi aktivis perempuan. Walaupun dia masih menyukai kaos dan rok panjang sebagai pakaian kebangsaannya, penampilan Tumini kini jauh lebih modis daripada sebelumnya. Kaosnya tidak lagi hanya sekedar kaos oblong, tapi kaos-kaos khusus perempuan yang mencetak keindahan tubuhnya, dengan selendang atau syal berwarna menghiasi leher jenjangnya. Rasa percaya diri yang tinggi dan pakaian yang melekat pada tubuhnya saat ini membuat aura kecantikan Tumini memancar keluar.

Dituruninya podium sederhana tempatnya melakukan penyuluhan tentang hak-hak perempuan. Disalaminya ibu Lurah yang menjadi Dewan Pembina PKK.

“Terima kasih, Mbak Tum… Bagus sekali isi ceramah Mbak barusan. Semoga ceramah Mbak ini membawa pencerahan bagi ibu-ibu di sini untuk nggak lagi diam menerima kekerasan dari suami-suami mereka. Sekali lagi terima kasih, Mbak Tum,” kata Bu Lurah saat bersalaman dengan Tumini.

“Ya, Bu. Semoga,” jawab Tumini singkat dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

“Maaf, Bu. Saya tidak dapat mengikuti keseluruhan acara PKK pada hari ini. Masih banyak kerjaan di kantor. Saya pamit, Bu.”

“Baik, Mbak Tum. Sekali lagi terima kasih,” sahut Bu Lurah.

Setelah berpamitan dengan ibu-ibu peserta pertemuan, Tumini melangkah keluar.

Tampak seorang laki-laki gagah telah menunggunya di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang kantor kelurahan.

Tumini segera menghampiri mobil itu. Dibukanya pintu mobil dengan ringan. Dihempaskan bokongnya yang padat berisi di kursi sebelah sopir. Tanpa malu-malu dan takut dilihat orang yang lalu lalang di sekitarnya, dicondongkannya tubuhnya kepada laki-laki yang duduk di muka setir itu. Laki-laki itu memberikan kecupan ringan pada bibir Tumini yang merekah indah menerima kecupan itu. Bukan hanya penampilan fisik Tumini yang berubah. Tapi gaya hidup dan sifatnya pun telah berubah.

Tumini saat ini adalah seorang penganut seks bebas. Ya, laki-laki di depan setir itu adalah salah satu kekasihnya dari sekian banyak laki-laki yang pernah mencicipi tubuhnya.

“Kemana kita, Sayang?” tanya Rudi, laki-laki di muka setir.

“Ke kantorku aja, Sayang. Ada laporan yang harus aku selesaikan,” jawab Tumini.

“Nah terus kapan kamu punya waktu untuk berduaan denganku, Sayang,” tanya Rudi.

“Malam ini, ya… Aku udah booking hotel tempat kita biasa”.

“Duh… Jangan malam ini, Sayang… Aku sudah kadung janji dengan temanku yang baru pulang dari Genewa.”

“Siapa teman kamu itu? Pasti laki-laki, ya?” Nada cemburu jelas terdengar dari suara Rudi.

“Ya, laki-laki. Si Edo. Dia mau share hasil pertemuan di sidang Komisi HAM PBB yang baru aja dia ikuti. Kebetulan agenda sidang kemarin yang dibahas adalah laporan Pemerintah tentang pelaksanaan Konvensi Hak Perempuan. Aku pengen tahu gimana reaksi dunia Internasional menerima shadow report yang kami buat yang pastinya sangat jauh berbeda dengan laporan Pemerintah,” jawab Tumini.

“Aaaah… Itu kan bisa besok, Sayang… Aku udah kangen banget pengen berduaan sama kamu. Malam ini sama aku, yaaa…,” desak Rudi.

“Nggak bisa dong Sayang… Aku nggak terbiasa ingkar janji.”

“Yaaa… Okeeeey… Tapi jangan pulang malam-malam ya ke kostmu. Apalagi pakai acara nginap bareng si Edo itu.”

“Iya,” jawab singkat Tumini.

Benaknya segera memutuskan untuk tidak mau lagi menemui laki-laki di sampingnya ini, yang telah memberikan pengalaman seks yang lain baginya selama satu bulan ini. Tumini sangat tidak suka jika ada laki-laki yang melarang-larang segala aktivitasnya. Apalagi laki-laki yang sepertinya ingin mengikat dirinya.

Tumini saat ini adalah perempuan yang mempunyai kuasa atas tubuh dan pikirannya. Apapun yang dia lakukan dengan tubuhnya adalah haknya. Menurutnya, tidak ada seorangpun yang boleh mengeluarkan larangan atas kebebasan dirinya. Termasuk laki-laki di sampingnya.

“Yuk ah kita ke kantorku. Aku mau laporanku selesai sebelum aku ketemu sama Edo,” ajak Tumini.

“Oke, Cantik…,” jawab singkat Rudi.

Mobil Inova hitam itu segera meluncur membelah padat jalan ibu kota menuju kantor Tumini yang terletak di kawasan sejuk selatan Jakarta.

Satu jam kemudian tampak Tumini yang sudah duduk di depan komputer di dalam kubikel kecil ruangannya.

“Hi, Tum. Udah balik? Gimana pertemuannya tadi?”

Satu suara halus dan tepukan di bahunya membuat Tumini menoleh menghadap si pemilik suara. Tampak Erlita, penolongnya yang sekarang menjadi sahabat dekat Tumini.

Erlita adalah salah satu konselor di LSM tempat Tumini beraktivitas. Erlita pula yang telah mendampingi dan selalu menyuntikkan semangat bagi Tumini selama proses perceraiannya dengan Darno.

Erlita yang memperkenalkan Tumini dengan seorang pengacara muda yang mampu meyakinkan hakim untuk menyerahkan hak asuh atas kedua anak Tumini yang saat ini tinggal bersama orang tuanya di kampung halaman Tumini di salah satu kota di Jawa Timur.

Pengacara muda yang memberikan Tumini pengalaman percintaan singkat pertama dengan mengesampingkan urusan moral dan etika.

“Yaah… Biasa, Mbak… Antusiasme yang biasa dari ibu-ibu yang baru pertama kali tahu bahwa ada Undang-Undang yang memberikan perlindungan bagi mereka. Oh iya, Bu Lurah titip salam sama, Mbak. Tadi dia sempat nanyain perkembangan kesehatan psikis Dela yang dibakar suaminya itu,” jawab Tumini membalas sapaan Erlita.

“Oooh… Si Dela tetangga Bu Lurah itu… Sip, biar nanti aku telpon Bu Lurah untuk ngabarin keadaan Dela. Eh, kamu ada acara nggak nanti malam? Nonton yuuuk… Kebetulan Mas Faisal mau ke rumah adiknya dulu sepulang dia dari kantor. Sepi niy di rumah. Biar nanti dia jemput aku di tempat kita biasa nonton aja. Ada film bagus lho Tum…”

“Waduh, sorry, Mbak… Aku udah janjian sama Edo nanti malam…”

“Eh, apa kabarnya si Edo? Udah balik dari Genewa ya dia?”

“Iya, udah, Mbak… Justru itu, aku mau dengar ceritanya dia selama pertemuan di Genewa itu… Pengen tahu gimana reaksi orang-orang terhadap shadow report yang kita buat…”.

“Alaaaah… Alesan mau dengerin cerita pertemuan… Bilang aja kamu udah kangen sama cowok hitam manis itu,” seloroh Erlita kepada Tumini.

Erlita, perempuan yang tidak dikaruniai anak dalam tujuh belas tahun pernikahannya itu sangat mengetahui perilaku Tumini yang saat ini dapat dengan mudah singgah di peraduan lelaki manapun yang disukainya. Perilaku yang sesungguhnya tidak dapat diterimanya. Tapi Erlita menghormati kehidupan pribadi Tumini, sehingga dia tidak memprotes kelakuan Tumini tersebut.

“Hehehehe… Mbak tahu aja kalau aku udah kangen sama Edo… So, next time kita nontonnya ya Sis…,” jawab Tumini sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Erlita.

Tumini yang telah bermetamorfosis, sangat menikmati hidupnya yang sekarang. Kegiatannya sebagai seorang penyuluh pada LSM tempatnya bekerja banyak memberikan ilmu dan pengalaman baru baginya. Karena tugasnya, dia sering menyambangi kota-kota sampai ke pelosok terkecil Indonesia. Dan dengan kehidupan seks bebasnya itu, dia dijuluki Kupu-Kupu Mungil Penakluk Kumbang. Julukan yang justru sangat membuat Tumini bangga.

Tujuh Tahun Kemudian…

Plak!!! Tamparan Erlita mendarat di pipi Tumini. Tumini yang biasanya tidak akan membiarkan tubuhnya disakiti oleh siapapun hanya diam menerima tamparan itu.

“Nggak nyangka kalau kamu setega itu sama aku, Tum. Kurang apa aku sama kamu, Tum? Aku bela kamu waktu kamu bermasalah sama Darno. Aku tampung kamu di rumahku saat kamu belum dapat kost. Aku kasih kamu kerjaan. Aku sayangi kamu lebih dari saudaraku sendiri. Tapi apa yang kamu kasih ke aku, Tum? Neraka. Ku percaya kamu, tapi kamu mengkhianatiku. Kamu rebut Mas Faisal dari aku, Tum. Kamu perempuan paling munafik yang aku tahu. Kamu menyuluh ke sana ke sini tentang hak perempuan, tapi kamu merampas hak perempuan lain. Kamu tertindas oleh perbuatan Darno. Tapi kamu melakukan penindasan yang lebih keji terhadap aku, sahabatmu sendiri. Tega kamu, Tum.”

Serentetan kata-kata yang diucapkan tanpa ekspresi oleh Erlita bagai bilah sembilu yang menusuk telinga dan batin Tumini. Kata-kata yang diakibatkan oleh perbuatan Tumini sendiri. Tanpa disadarinya rasa cintanya terhadap laki-laki justru kembali terbit pada sosok Faisal, suami Erlita. Sosok lembut dewasa itulah yang mampu mengisi kekosongan jiwanya. Awalnya dia menganggap Faisal sebagai sesosok kakak yang selalu menjadi tempatnya mencurahkan setiap kekesalan dan problem hidupnya selama ini pada saat Erlita pergi ke Belanda selama tiga tahun untuk menyelesaikan program doktornya. Kepergian Erlita dalam waktu panjang yang hanya sesekali pulang pada saat libur itu telah membuat Faisal dekat dengan dirinya.

Bahkan Tumini telah memberikan apa yang diidam-idamkan oleh Faisal. Seorang bocah laki-laki yang saat ini telah berumur tiga tahun.
Faisal dan Tumini selalu berusaha menutupi hubungan keduanya dan juga kehadiran Rubianto Radika, sang bocah tiga tahun itu, di hadapan Erlita. Tumini yang tidak lagi tinggal di kost-kostan dan telah tinggal di rumah yang dicicilnya dari hasil keringatnya sendiri itu sesungguhnya sangat mengetahui konsekwensi yang akan diterima jika Erlita mengetahui semuanya seperti saat ini. Tapi pada masa dirinya lelah dengan segala petualangan yang telah dilakukannya, hanya sosok Faisal yang memberikan kenyamanan dan pelindungan bagi dirinya. Sesungguhnya, Tumini telah mempersiapkan dirinya untuk moment seperti saat ini.

Namun kata-kata yang diucapkan Erlita memporak-porandakan segala kesiapannya.

Tumini terguguk sendiri. Erlita pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Terbayang oleh Tumini kejadian sehari lalu. Saat dirinya sedang mengajak anaknya bermain di suatu mall, tanpa dia ketahui Faisal dan Erlitapun mengunjungi mall yang sama. Anaknya yang pada awalnya asik bermain dengan balok kayu yang disusunnya menjadi bentuk kereta api panjang, serta merta berdiri dan berlari menghampiri sosok Faisal yang berdiri memunggungi mereka.

“Ayaaah…!” teriak suara kecil Rubi. Mendengar suara anak kesayangannya itu, serta merta Faisal membalikkan tubuhnya dan langsung membawa Faisal dalam gendongannya tanpa memperhatikan tatapan penuh tanya Erlita. Erlita yang kebingungan menatap Rubi. Pada wajah Rubi yang montok dan polos, jelas tergambar wajah Faisal. Kehadiran Tumini di antara mereka kemudian, menjawab semua tanya dalam hatinya tanpa perlu ada sepotong pun penjelasan baik dari Tumini maupun Faisal. Tumini segera merengkuh Rubi dari gendongan Faisal dan segera berlalu tanpa menoleh lagi. Tidak dihiraukannya teriakan Rubi yang meronta dalam gendongan memanggil-manggil Faisal ayahnya.

Pagi ini, pada moment yang baru saja berlalu, saat dia membuka pintu rumahnya, sosok Erlita telah berdiri di muka pintunya. Pias wajah Erlita dan sorot terluka pada matanya mengingatkan Tumini pada dirinya sendiri sepuluh tahun silam. Erlita tidak berteriak histeris memakinya. Erlita hanya mengucapkan kata-katanya satu-satu dengan perlahan untuk kemudian pergi meninggalkannya dalam termangu. Erlita bahkan tidak menuntut jawaban dari Tumini.

Sepeninggal Erlita, Tumini seperti tergeragap. Nyeri merayap dari dalam hatinya. Rasa bersalah yang sangat pada Erlita menghadirkan kembali apa yang dirasakannya saat mendapati perselingkuhan Darno suaminya dahulu. Tumini jatuh terduduk di pintu rumahnya. Hanya air mata yang mengalir tanpa suara pada pipinya yang pucat sebagai penanda runtuhnya keangkuhan sang kupu-kupu mungil penakluk kumbang. 

Dengan segala tindakannya yang tanpa memperdulikan norma dan etika dalam masyarakat serta adanya pembenaran bahwa dialah yang paling berkuasa atas tubuhnya telah menghadirkan akibat yang tidak hanya menghancurkan hatinya, tapi juga hati orang yang paling dia hormati dan sayangi. Dan kehancuran hati Erlita lah yang membuat dia merasakan kesakitan yang teramat sangat dalam hatinya.

Kata-kata Erlita terakhir terus saja terngiang di telinganya, 

”….Kamu tertindas oleh perbuatan Darno, tapi kamu melakukan penindasan yang jauh lebih keji terhadap aku, sahabatmu sendiri. Tega kamu, Tum…”

Pagi itu Tumini tersedu-sedan sendiri di pintu rumahnya.***

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar